Ekonomi

Desa Kopi, Ikhtiar Dedi Mulyadi Sejahterakan Petani Kopi

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendapatkan keluhan dari salah seorang petani kopi, Nuri (52). Sehari-hari, Nuri menanam kopi di sebuah perkebunan yang terletak di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

PURWAKARTAPOST.CO.ID-Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendapatkan keluhan dari salah seorang petani kopi, Nuri (52). Sehari-hari, Nuri menanam kopi di sebuah perkebunan yang terletak di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Keluhan tersebut dia sampaikan saat mantan Bupati Purwakarta tersebut melakukan kunjungan ke desa itu, Sabtu (28/4/2018).

Nuri mengatakan selama ini tidak mendapatkan advokasi dari pemerintah tentang pemeliharaan tanaman kopi. Dia beserta para petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) memang pernah menerima bantuan benih kopi.

Akan tetapi, pengawalan dari mulai pola tanam sampai kopi siap dipanen tidak dia dapatkan. Sehingga, alih-alih bisa mendapatkan hasil panen kopi yang maksimal, tanaman kopi tersebut layu sebelum berkembang.

“Karena tidak diurus jadi tanamannya mati. Pohon kopinya tidak dirawat. Padahal, kopi ini komoditas unggulan di Jawa Barat bahkan dunia,” ujarnya.

Kopi Malabar, menurut Nuri, merupakan kopi terbaik di dunia. Nama lokal yang tersemat dalam kopi tersebut diambil dari nama sebuah gunung tempat kopi itu ditanam. Akan tetapi, secara kualitas, kopi tersebut mampu memenangi berbagai festival kopi di dunia internasional.

“Kami menanam Kopi Malabar, ini paling dicari banyak orang. Harganya $8,9 per kilo. Kalau ada festival, kopi ini selalu menang. Karena itu kita ekspor ke berbagai Negara di Eropa,” lanjutnya.

Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendapatkan keluhan dari salah seorang petani kopi, Nuri (52). Sehari-hari, Nuri menanam kopi di sebuah perkebunan yang terletak di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Keluhan tersebut dijawab oleh Dedi Mulyadi dengan melontarkan gagasan tentang Desa Kopi. Menurut dia, desa tersebut dapat memanfaatkan keunggulan produk yang dimilikinya, dalam hal ini kopi.

Output-nya, kesejahteraan dapat diraih oleh para petani kopi di Desa Kopi. Selain itu, manfaat branding positif dari produk kopi dia nilai dapat mengundang wisatawan untuk mengunjungi desa tempat kopi berkualitas ditanam.

“Tetapi caranya tidak boleh dengan merambah hutan. Satu juta pohon kopi bisa kita tanam dengan memanfaatkan lahan perkebunan teh yang tidak produktif di wilayah ini,” katanya.

Selain diangkat sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) Pemprov Jawa Barat, para petani kopi rakyat juga diberikan advokasi khusus. Pendampingan tersebut dapat dilakukan oleh para sarjana pertanian yang diberikan insentif oleh Pemprov Jawa Barat.

“Kita tidak hanya berikan benih kopi, kita berikan pendampingan dari mulai masa tanam sampai panen. Pemprov Jawa Barat nanti meminta bantuan para sarjana pertanian untuk itu,” ujarnya.

Pohon Kopi Sebagai ‘Sabuk Hijau’ Alam

Selain memiliki nilai ekonomi, Dedi Mulyadi menilai tanaman kopi juga memiliki fungsi menjaga lingkungan alam sebagai ‘Green Belt’ atau Sabuk Hijau. Dalam konteks ini, kelestarian alam di Gunung Malabar dapat terjaga melalui penanaman pohon kopi.

Selama ini, secara ekologi, Gunung Malabar merupakan salah satu hulu Sungai Citarum. Sebuah sungai yang memiliki peran sentral terhadap kondisi lingkungan di Jawa Barat dari selatan, tengah, sampai utara.

“Pohon kopi ini mampu memperkuat kondisi tanah. Apalagi, ini kan di bagian hulu Sungai Citarum. Jadi, manfaatnya bisa berlipat,” pungkasnya.

Click to comment

Berita Populer

To Top