Ekonomi

Meski Harga Gabah Mahal, Petani Purwakarta Tetap Rugi

Seorang wartawan memandang hamparan areal persawahaan di purwakarta saat musim panel

PURWAKARTAPOST.CO.ID-Meski harga gabah mengalami kenaikan pada musim panen kali ini, namun hal itu tak membuat petani cukup puas. Pasalnya pada tiga musim sebelumnya, para petani di Kabupaten Purwakarta mengalami gagal panen.

Hal itu disebabkan sebelumnya mereka telah mengalami gagal panen selama tiga musim secara berturut-turut. Mereka menilai gagal panen tersebut dampak dari cuaca yang kurang memihak terhadap perkembangan benih padi, sehingga hasil panen padi pun kurang maksimal.

Seperti yang diungkapkan Saripudin (36), salah satu petani di Kecamatan Darangdan, ia mengatakan harga gabah kering saat ini terus mengalami kenaikan dan itu tentunya kabar baik bagi para petani. Namun jika ditarik ulur kebelakang kenaikan ini pengganti modal tiga musim tanam sebelumnya yang mengalami gagal panen.

“Memang betul saat ini harga gabah sedang mahal, tapi itu tidak membuat kami merasa untung karena tiga musim kemarin panen kurang baik. Jadi saat ini kita masih nombokin modal musim panen yang lalu,” ujar dia.

Meski demikian, dirinya tetap bersyukur dengan adanya kenaikan harga gabah kering ini.

“Yah namanya juga usaha kadang untung dan saat rugi kita harus tetap menerimanya,” ungkap dia.

Sementara, salah satu tengkulak di kecamatan Darangdan H. Masud (35) mengatakan, jika dibandingkan dengan musim panen sebelumnya harga gabah kering saat ini mengalami kenaikan hingga 50 persen.

“Untuk musim panen sebelumnya harga gabah kering Rp500 ribu perkwintal dan untuk harga gabah kering saat ini Rp750 ribu perkwintal,”ujar dia.

Seperti diketahui, harga beras disejumlah pasar di Kabupaten Purwakarta mengalami kenaikan sejak awal tahun 2018. Kenaikan tersebut mengalami kenaikan Rp1000 dari harga sebelumnya. Meski demikian kenaikan itu masih dibawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Untuk harga beras premium saat ini Rp13 ribu dan jenis beras medium Rp8 ribu perkg. Meski naik namun tidak mempengaruhi berkurangnya pelanggan,” ujar Herdi (32) salah satu pemilik kios di Pasar Baru Sukatani, Kecamatan Sukatani.

Click to comment

Berita Populer

To Top