Purwakarta

Bupati Purwakarta Inisiasi Perubahan Cara Kerja ASN

Bupati purwakarta, dedi mulyadi saat memberi sambutan pada Pembinaan PTT dan Honorer di Bale Maya Datar, Kamis (25/1/2018)

PURWAKARTAPOST.CO.ID-Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengungkapkan kunci sukses manajerial Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut dia, polanya sudah tidak boleh berorientasi pada administrasi tetapi harus mengedepankan logika dan hati.

Di sela Pembinaan PTT dan Honorer di Bale Maya Datar, Kamis (25/1/2018), ia menyebut hal ini tidak sinkron dalam diri ASN. Logika dan hati bertolak belakang saat melaksanakan suatu pekerjaan.

“Titik lemahnya itu, dalam bekerja seringkali tidak sinkron antara logika dan hati. Saya perhatikan betul itu. Jadi, kebanyakan bekerja berdasarkan atas logika, hatinya kurang digunakan,” kata Dedi.

Imbasnya menurut Dedi, kualitas pelayanan kepada masyarakat menjadi tidak maksimal. Bupati Purwakarta dua periode itu mencontohkan, sering ia dapati petugas kebersihan tidak mengangkut sampah dengan alasan kendaraan rusak.

“Akibatnya, pelayanan menjadi terganggu. Di Munjul, pernah saya tegur seorang ASN, mereka tidak mengangkut sampah dengan alasan kendaraan rusak dan belum dianggarkan biaya perbaikannya. Ini repot, harus ada RKA/DPA. Padahal, kan bisa sewa dulu, yang penting sampah terangkut,” tuturnya.

Perubahan Pola Rekrutmen

Dalam kesempatan tersebut, Dedi pun menyerukan perubahan pola rekrutmen ASN. Menurut dia, pola rekrutmen abdi nagari itu sudah tidak boleh lagi didasarkan pada seleksi administratif, tetapi faktor keahlian dan kemampuan harus menjadi determinan utama.

Jika ini tidak dilakukan, maka menurutnya antrian PTT, Honorer dan THL akan terus bertambah. Sementara, pegawai yang sudah ada, kalah bersaing dengan pegawai baru yang datang.

“Angkat sesuai dengan keahlian. Tidak boleh pegawai yang sudah lama mengabdi, kalah dengan pegawai yang baru masuk,” tegasnya.

Ke depan, pemberian tunjangan pun harus dilakukan berdasarkan produktifitas kerja dan karya, tidak seperti hari ini yang berpatokan pada golongan.

“Kalau tunjangan berdasarkan golongan, menurut saya itu inefisiensi. Saya kira, lebih baik tunjangan itu didasarkan pada produktifitas dan dedikasi terhadap pekerjaan. Sehingga, kualitas pelayanannya kepada masyarakat terus meningkat,” tandasnya.

Loading...
www.domainesia.com
Click to comment

Berita Populer

To Top