Politik

Dedi Mulyadi dan 34 Tahun Banjir Citarum

Dedi mulyadi menghadiri peringatan 34 tahun banjir sungai citarum

PURWAKARTAPOST.CO.ID-Ribuan warga Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, malam tadi Rabu (24/1/2018) memperingati 34 Tahun relokasi akibat banjir Sungai Citarum. Peristiwa yang terjadi pada Tahun 1986 tersebut menghadirkan dampak traumatik dalam benak warga tersebut.

Untuk menghilangkan dampak itu, bakal calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadirkan karavan seni, pelawak Ohang dan Ki Daus. Dedi hadir dalam acara tersebut dalam kapasitas sebagai Budayawan Jawa Barat yang memiliki kepedulian terhadap pencemaran lingkungan di Sungai Citarum.

Di tengah acara, Dedi menarik salah seorang penonton yang menyaksikan acara tersebut ke atas panggung. Ia diketahui bernama Bayu Prasetia (13) warga Kampung Cimuncang, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Kepada Dedi, remaja yang duduk di bangku SMP kelas VIII itu mengaku sudah lama ditinggalkan oleh sang ayah. Bahkan, ia mengatakan sudah lupa wajah ayah kandungnya yang bernama Pardi itu.

“Bapak saya mah nurus tunjung (tidak punya rasa malu.red),” kata Bayu ketus.

Menurut keterangan remaja yang biasa disapa Iwan itu, sehari-hari Ibunya, Enok (37) harus berjuang sendirian memenuhi kebutuhan ekonomi. Kebutuhan tersebut mulai dari biaya makan hingga sekolah dan kebutuhan lain.

Profesi yang ditekuni oleh sang ibu adalah berjualan makanan ringan dengan omset per hari mencapai Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Dari omset itu, Enok yang juga diminta untuk naik ke atas panggung menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan keuntungan sebesar Rp15 ribu.

“Hasilnya dicukup-cukupkan saja Pak,” tutur Enok kepada Dedi.

Suasana haru menyeruak saat lagu berjudul ‘Indung’ ciptaan Dedi Mulyadi dibawakan oleh karavan seni Emka 9. Lagu tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya dari bayi hingga dewasa.

Selama lagu tersebut dilantunkan, warga satu per satu naik ke atas panggung dan memberikan sumbangan kepada Enok dan Iwan. Sementara, keduanya tampak menangis tersedu di pangkuan Dedi Mulyadi.

“Ini semuanya Rp10,5 Juta, saya tambahin jadi Rp12 Juta. Semoga bermanfaat. Untuk Iwan, bantu ibu, gantikan peran bapak untuk membahagiakan ibu,” kata Dedi memberi wejangan.

Wejangan tersebut hanya dijawab dengan anggukan dari Iwan karena dia dan ibunya tidak berhenti menangis.

Status Tanah

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi juga menyinggung soal status tanah relokasi yang didiami warga. Berdasarkan informasi, tanah tersebut merupakan milik Pemerintah Kabupaten Bandung dan bukan merupakan hak milik warga tersebut.

Ke depan, kata Dedi, pemkab setempat ia minta untuk menyerahkan hak kepemilikan tanah itu kepada warga. Jika Pemerintah Kabupaten Bandung takut kehilangan aset, maka Pemerintah Provinsi Jawa Barat kelak menggantinya dengan aset tanah yang baru.

“Berikan saja tanah ini kepada rakyat. Kalau takut kehilangan aset, nanti diganti oleh provinsi,” ujarnya yang disambut tepuk tangan meriah dari warga.

Click to comment

Berita Populer

To Top