Kesehatan

Dua Warga Kecamatan Kiarapedes Dan Sukatani Terpapar Difteri

Bakteri difteri.

PURWAKARTAPOST.CO.ID – Dua warga Kecamatan Kiarapedes dan Sukatani Kabupaten Purwakarta dikabarkan terpapar Difteri dan dirawat di ruang isolasi RSUD Bayu Asih Purwakarta.

Kini pasien penyakit Difteri bukan lagi anak-anak, melainkan sudah merambah ke kalangan orang dewasa.

“Ada dua orang yang kembali diisolasi. Mereka mulai dirawat sejak akhir pekan kemarin. Yang satu usia 17 tahun dan satu lagi 24 tahun. Mereka warga Kiarapedes dan Sukatani,” ujar Dirut RSUD Bayu Asih, dr. Agung Darwis kepada awal media, Rabu (20/12/2017).

Menurutnya, hingga kini kedua pasien tersebut masih mendapatkan perawatan intensif. Untuk sementara, para pasien ini dilarang kontak dengan warga lainnya. Mengingat, penyebaran penyakit ini sangat cepat yang salah satunya bisa menular melalui udara. Pihaknya menegaskan bahwa perawatan terhadap pasien difteri ini berbeda dengan pasien lainnya.‎‎

Sebelumnya, ada empat orang pasien Difteri yang dirawat, satu diantaranya meninggal dunia. Namun, seluruh pasien sudah diperbolehkan pulang. Kali ini, ada dua pasien baru lagi yang harus dirawat intensif.

“‎Setelah kami periksa, keduanya positif Difteri. Tapi, kondisinya tidak terlalu buruk. Ini merupakan kasus baru,” jelas dia.

Dengan begitu, lanjut Agung, di 2017 ini telah terjadi 31 kasus warga yang terpapar‎ Difteri. Sebelumnya, hanya 29 kasus. Makanya, sampai saat ini pihaknya masih mewaspadai penyebaran penyakit mematikan ini.

Adapun upaya yang dilakukan jajarannya, yakni dengan memberikan obat antibiotik untuk mencegah penebatan membran putih‎ di tenggorokan pasien. Serta, memberi anti difteri serum (ADS) dan eritromisin‎, supaya toksinnya tidak menyebar ke organ vital lainnya‎. “Untuk pengobatan, idealnya dua pekan,” jelasnya.

Agung mengaku, pihaknya sempat menemukan kesulitan mencari ADS untuk pengobatan pasien. Sebab, obat tersebut sudah tak lagi diproduksi. Mengingat, selama ini difteri merupakan penyakit yang dianggap telah hilang.‎

“Di Purwakarta juga, kasus difteri yang menghebohkan itu terjadi pada 2007 di Kecamatan Maniis. Setelah itu hilang. Tetapi, di 2016 kemarin kembali muncul,” ujarnya.

Agung menambahkan, munculnya difteri bisa diawali dengan gejala demam, meriang. Kemudian, ada pembengkakan di bagian leher, serta di tenggorokan terlihat ada bercak-bercak putih. Kalau sudah begitu, warga harus segera memeriksakan kesehatannya ke dokter.

Untuk ‎pasien difteri yang telah di rawat ini, juga harus mendapatkan perawatan intensif lanjutan minimalnya selama sebulan. “Kami akan terus mengawasi mereka hingga kondisinya benar-benar membaik,” pungkasnya.

Loading...
Click to comment

Berita Populer

To Top