Kesehatan

9 Gejala Difteri pada Anak yang Mesti Orang Tua Ketahui

ilustrasi

Purwakarta Post – Saat memiliki buah hati yang tengah tumbuh kembang banyak hal yang harus diperhatikan orang tua terutama mengenai infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan. Jika terjadi infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan orang tua harus mulai memeriksa si buah hati ke dokter untuk memastikan bahwa tidak terjadi difteri pada anak.

Secara umum difteri sendiri merupakan infeksi bakteri Corynebacterium diphtheria pada hidung dan tenggorokan. Jika tidak segera ditangani maka bakteri tersebut dapat mengeluarkan racun yang dapat merusak organ tubuh seperti jantung, ginjal atau otak.

Difteri pada anak sendiri tergolong pada penyakit menular berbahaya dan mengancam jiwa. Namun demikian difteri bisa dicegah melalui imunisasi pada anak menggunakan vaksin.

Di tanah air pemberian vaksin pada anak untuk mencegah difteri sendiri biasanya bersamaan dengan pemberian vaksin pertusis dan vaksin tetanus, sehingga vaksin yang akan disuntikan biasanya disebut dengan DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus).

Difteri pada anak dapat menular bila terjadi kontak yang biasanya tidak sengaja melalui udara yang dihirup atau air liur penderita difteri yang tertelan orang lain saat batuk, bersin atau benda yang terkontaminasi air liur penderita difteri.

Secara khusus tidak ada klasifikasi siapa saja yang dapat terserang difteri namun pastinya ada beberapa penyebab dari perilaku yang dapat memicu penyakit difteri. Perilaku-perilaku ini memiliki resiko tinggi terjadinya wabah difteri pada anak.

4 Perilaku Resiko Terjangkit Difteri

  1. Orang yang tidak mendapatkan vaksi difteri memiliki resiko terjangkit difteri lebih tinggi;
  2. Tinggal di area padat penduduk dan lingkungan yang tidak bersih;
  3. Melakukan perjalanan ke daerah yang sedang terjadi wabah difteri; dan
  4. Sistem imunisasi atau kekebalan tubuh yang lemah sehingga mudah terjangkit penyakit difteri
Baca juga :  Wilayah Sukatani Aman Dari Wabah Difteri

Cara Mencegah Difteri
Untuk menghindari terjadinya wabah penyakit difteri maka alangkah baiknya orang tua mulai memperhatikan apakah buah hatinya sudah mendapt vaksi untuk menghindari difteri pada anak. Hal yang penting harus dilakukan orang tua adalah memberi vaksi dpt pada anak yang dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis).

Di Indonesia sendiri pemberian vaksin DPT wajib dilaksanakan bersamaan dengan program imunisasi anak pada usia 18 bulan, 2, 3, 4, dan 5 tahun. Program imunisasi vaksin DPT sendiri gratis dan biasanya dilakukan di sejumlah sekolah saat anak-anak bersekolah.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit difteri maka sebaiknya orang tua memperhatikan jadwal pemberian vaksin DPT pada anak dengan rentang usia tertentu. Pada usia 10-12 tahun dan usia 18 tahun sebaiknya diberikan vaksin vaksin sejenis DPT (Tdap atau Td), dan vaksin Td diberikan setiap 10 tahun sekali.

Sedangkan bila orang tua terlambat melakukan imunisasi dan pemberian vaksi DPT pada anak yang berada di bawah usia 7 tahun maka harus dilakukan imunisasi kejaran dengan memperhatikan anjuran dokter anak. Dan bial terlambat memberikan imunisasi pada anak usia di atas 7 tahun maka harus dilakukan imunisasi DPT dengan memberikan vaksin Tdap.

9 Gejala Difteri pada Anak
Secara umum gejala difteri pada anak muncul pada rentang masa 2 – 5 hari setelah terjadi infeksi. Pada masa-masa ini biasanya orang tua tidak akan mengetahui apakah anaknya terserang difteri atau tidak, pasalnya di masa ini tidak semua orang yang terinfeksi difteri mengalami gejala pasti.

Karenannya untuk mengetahui apakah terjadi infeksi difteri atau tidak orang tua harus melakukan pemeriksaan ke dokter setelah terjadi beberapa gejala yang menjurus pada infeksi difteri, berikut ini 9 gejala difteri pada anak yang mesti orang tua ketahui :

  1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel anak;
  2. Sakit tenggorokan;
  3. Suara serak;
  4. Batuk;
  5. Pilek;
  6. Demam;
  7. Menggigil;
  8. Lemas; dan
  9. Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening
Baca juga :  Direktur RSUD Bayu Asih Purwakarta: Pencegah Dini Difteri dengan Imunisasi

Saat terjadi gejala tersebut maka sebaiknya orang tua mulai membawa penderita ke dokter anak. Semakin cepat dilakukan pengobatan maka semakin baik bagi penderita untuk menghindari bakteri difteri berkembang semakin pesat. Dokter dapat melakukan penyuntikan antiracun (antitoksin) untuk melawan bakteri difteri.

Selain gejala umum di atas terdapat beberapa gejala serius seseorang terjangkit penyakit difteri, berikut ini gejala serius difteri yang harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD):

  1. Gangguan penglihatan;
  2. Keringat dingin;
  3. Sesak napas;
  4. Jantung berdebar; dan
  5. Kulit pucat atau membiru

Jika seseorang diketahui mengalami 5 gejala tersebut maka orang tua harus segera membawa penderita ke dokter atau dilarikan ke IGD untuk segera mendapat pertolongan medis.

Loading...
Click to comment

Berita Populer

To Top