Opini

Masyarakat Kultural dari Kisah Hidupnya Purwakarta

Dimulai dari salah satu buku karya saintis budaya Koentjaraningrat dari A hingga Z. Dari deretan maha karya saintis lainnya yang memberi sumbangsih ide pemikiran yang tak terbayangkan oleh ruang dan zaman. Kepada kita sebagai penerus dari lembaran baru budaya masyarakat nusantara.
Mengulas sedikit dari banyak hal yang berkaitan dengan budaya menyederhanakan cara kita menilai realitas kebudayaan. Sederhananya ada hal yang penulis batasi saat menjelaskan budaya. Mungkin ini bagian dari norma akademis dimana setiap tema bahasan dicarikan masalahnya lalu dibatasi ruang lingkupnya. Ya itu bagian dari kultur saintific method atau metode sain.
Baik, tulisan ini didedikasikan untuk kemajuan bangsa atau daerah yang penulis cintai yakni, Purwakarta. Lebih spesifik yaitu sumbangsih tulisan yang mungkin menjadi referensi bacaan di ulang tahun emas Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) yang ke-50 pada tahun ini 2016. Salam Hormat untuk seluruh pendahulu HMI, Alm Prof Lafran Pane beserta 14 temannya yang peduli kepada ideologi bangsa dan umat lalu berjuang membentuk organisasi ini (HMI). Tak lupa seluruh senior HMI, wabilkhusus senior HMI Purwakarta, Uda Herman (Suherman Saleh), Kang Ade Komarudin (mantan Ketua DPR RI) hingga Kang Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta 2008-2013 dan 2013-2018), dan senior HMI lain tanpa mengabaikan rasa hormat yang menjadi member grup WhatsApp KFJS (KAHMI Forever Jalan Sehat) atau yang tidak ikut member grup tersebut tetap penulis hormati.
Mereka yang segenap hati mengabdi dan memberi contoh metoda berfikir kepada kader melalui forum dan diskusi kecil lalu menuliskan dalam buku yang kini telah menjadi kultur watak HMI. Kultur itu kemudian menjadi bagian dari sejarah baru masyarakat Purwakarta. Begitupun dengan kultur yang berkembang di tengah masyarakat Purwakarta saat ini, seiring semangat kebudayaan yang dipimpin Kang Dedi Mulyadi melalui akar budaya Sunda dan dialektika di dalamnya. Landasan cipta karyanya sama yaitu semangat mengabdi untuk umat dan bangsa dan tujuan ber-HMI yakni menciptakan masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah. Begitupun dengan kultur yang hari ini dibangun di Purwakarta, penulis merasa apa yang hari ini ada adalah ide dan kultur sesungguhnya Kang Dedi.
Secara umum Purwakarta menjadi cermin ide, gagasan keber-HMI-an dan keber-budayaa-an Kang Dedi yang akan menjadi kultur kepada generasi penerusnya. Penting sekali untuk memahami kata “kultur” dalam tema ini. “Kultur” sendiri adalah bahasa Inggris yang diambil dari kata Latin “colere” dengan arti “mengolah, mengerjakan”. Dari arti ini kemudian pemaknaan kata “culture” berkembang diartikan sebagai segala daya dan usaha manusia merubah alam dan daya dari budi atau kekuatan dari akal. (Koentjaraningrat; Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, h.9)
Pemahaman itu telah digunakan masyarakat kultural yang dengan sesungguhnya menjaga wujud dari kebudayaan. Lalu apa wujud dari kebudayaan?. Ada tiga wujud kebudayaan yang dijaga masyarakat kultural saat ini yaitu, wujud ideel, wujud kelakuan dan wujud fisik. Ketiga hal ini mencakup pada seluruh watak masyarakat kultural, yang mencakup seluruh kategori dari adat istiadat (masyarakat adat, tata kelakuan), hingga peradaban manusia (bagian kebudayaan yang halus dan indah, sain, arsitektur, teknologi).
Semangat kebudayaan yang diusung Kang Dedi Mulyadi telah mendorong masyarakat Purwakarta khususnya dan Indonesia umumnya mengangkat kembali harkat dan martabat masyarakat kultural nusantara. Artinya ada beberapa hal yang saat ini diragukan mengenai kultur masyarakat Indonesia, pertama masyarakat sepenuhnya menganut budaya barat (dari luar) biasanya mereka yang tinggal di kota urban, kedua masyarakat telah lupa budaya asli daerahnya lalu meninggalkannya. Sehingga dirasa perlu diangkat kembali nilai-nilai budaya baik berupa ide, tata nilai masyarakat hingga konsepsi yang bersifat emosional adat masyarakat. Semangat ini menjadi bagian penting mengukur daya tahan budaya tanpa perbenturan yang mengakibatkan salah satu budaya benar benar ditinggalkan. Karenanya sangat penting bila seluruh nilai-nilai budaya yang mencakup ideel itu kemudian diberikan ruang publik melalui ide dan konsepsi kearifan budaya yang kemudian terus diulang-ulang dalam setiap pertemuan terbuka hingga menjadi kebiasaan masyarakat. Selanjutnya melalui pertunjukan budaya, desain arsitektur yang dibuka untuk umum tidak saja dalam gedung teatrikal. Ini penting untuk menekan alergi budaya pada masyarakat kita yang telah mengalami kebingungan budaya. Alih-alih mengenal budaya sendiri masyarakat cenderung menyukai budaya impor yang dirasa lebih beradab atau lebih baik, itu yang kemudian menjadi ancaman masyarakat kultural di Indonesia. Karena bisa saja suatu hari nanti budaya akan menjadi “tontonan” semata tanpa masyarakat benar-benar memahami dan menjalaninya. Sesungguhnya budaya yang dimiliki masyarakat Sunda, Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan masyarakat nusantara adalah lebih baik dan memiliki peradaban terbaik. Sehingga tidak ada pengklasifikasian atau kelas strata pada budaya tertentu. Budaya Arabisme, Westernisme apakah yang lebih baik? Jawabannya belum tentu bagi masyarakat Indonesia. Indonesia memiliki budaya Nusantara masyarakat kultural yang tidak terkotakan pada kesukuan, ras, bahasa, atau agama sekalipun dan itu yang membuat kita sadar akan pentingnya kebinekaan dan saatnya menjaga tradisi, kultur budaya kita. Sederhananya setiap keluarga, orang tua memiliki darah adat budaya penerus leluhurnya tanpa membenturkan dengan norma-norma agama dan kepercayaan. Ide-ide kebudayaan itu menjadi bagian hukum dalam bentuk kebijakan-kebijakan daerah yang mengatur dan pembiasaan perilaku masyarakat pada budaya dan tradisi. Kebijakan ini yang nantinya menentukan arah dari hasil pembangunan yang dijalankan. Contoh sederhana tentang nilai budaya yang terjaga adalah masyarakat Cirebon saat Grebeg Syawal melakukan ziarah makam Sunan Gunung Djati dari keluarga Keraton Kanoman yang diikuti masyarakat kultural di belakangnya. Mereka mengikuti dan menjalani tradisi tersebut dengan setia meski hanya berpegangan pada titah abdi keraton.
Secara objektif semangat kebudayaan Kang Dedi telah mendorong cara baru berkebudayaan, bertadisi dan berfikir nasionalis dalam bingkai budaya yang netral dari intervensi apapun. Artinya tanpa meninggalkan jati diri budayanya Purwakarta telah menjadi daerah yang hidup dan tumbuh dengan toleransi, dan itu tidak saja toleransi umat beragama melainkan budaya.
Oleh: Saefudin (Pimpinan Redaksi Purwakarta Post)

Loading...
www.domainesia.com
Click to comment

Berita Populer

To Top