Opini

Purwakarta Pasca Dedi Mulyadi (bagian 1)

foto: arsip

Menggunakan istilah William Fielding Ogburn ketertinggalan budaya (cultural lag) menjadi ancaman tersendiri bagi Kabupaten Purwakarta di masa mendatang.

Beberapa hal yang menjadi catatan untuk Kabupaten Purwakarta baik selama dan setelah kepemimpinan Dedi Mulyadi berakhir.

Sepuluh tahun Dedi Mulyadi memimpin sedikitnya Purwakarta mengalami perubahan budaya yang lebih baik. Pembangunan infrastruktur budaya yang kuat serta merata menjadikan Purwakarta layak menjadi laboratorium budaya bagi sebagian besar masyarakat Jawa Barat umumnya Indonesia. Mereka dapat belajar banyak dari kabupaten kecil ini untuk mengartikan budaya sebagai modal utama pembangunan. Tidak banyak yang melihat intisari budaya sebagai penggerak perubahan sosial dengan baik seperti William Fielding Ogburn dan Dedi Mulyadi sendiri. Itu lebih pada pemahaman kata budaya yang sempit sebagai tradisi masyarakat. Tidak salah bila Dedi Mulyadi mampu menangkap betul pesan budaya yang universe dan menjadikan Purwakarta sebagai laboratoriumnya.

Infrastruktur budaya yang baik menjadikan Purwakarta sepuluh tahun terakhir ini memiliki cita rasa yang menarik siapa pun. Pembangunan Gapura Malati adalah contoh kecil. Bagaimana di setiap penjuru Purwakarta terlihat cantik dan harum semerbak bak melati. Gapura Malati menjadi gerbang awal bagi infrastruktur budaya lainnya. Pasalnya pasca Gapura Malati, Purwakarta mempu membangun pondasi budaya lain seperti infrastruktur bangunan yang artistik, taman yang khas dan kampung budaya yang memiliki identitas alamnya.

Saya hafal betul pada waktu itu bagaimana Dedi Mulyadi secara kuat menghendaki penggunaan Pagar Malati menjadi ikon awal dikenalnya identitas budaya di Purwakarta. Bertemu profesor perguruan tinggi untuk sekedar menggunakan pagar identitas di Purwakarta.

Menariknya Purwakarta mampu menggabungkan tradisi dan teknologi sebagai asimilasi budaya yang baik. Teknologi menjadi syarat mutlak untuk diterima lebih banyak orang dibandingkan infrastruktur budaya semata. Bagaimana kisah “Sribaduga Maha Raja” kembali dikenang banyak orang lewat taman air mancur. Padahal mungkin seseorang akan sulit mengenalkan siapa Raja Padjadjaran dengan baik kepada masyarakat. Melalui infrastruktur budaya dan teknologi Dedi Mulyadi mampu mewujudkan hal itu di Purwakarta. Tak salah bila Purwa dan Karta terejawantahkan lewat budaya dan fanatisme kejayaan Sunda yang hidup melalui budaya dan teknologi.

Suprastruktur budaya, kebenaran itu diukur pada seberapa kuat keterhubungan sesuatu yang lama dengan sesuatu yang baru. Coherence atau koherensi itu muncul seiring dengan penggunaan infrastruktur budaya di Purwakarta. Menguatkan infrastruktur, Dedi Mulyadi mampu menciptakan aktifitas pemerintahan yang kuat akan pengidentifikasian budaya. Bayangkan saja bagaimana setiap tahun Purwakarta mampu menggelar wujud asli budaya melalui festival budaya yang tidak saja berkelas lokal, nasional melainkan internasional. Panggung budaya tumbuh subur. Pesan yang disampaikan dari deretan kegiatan itu adalah bahwa Purwakarta memiliki budaya. Tidak salah bila Dedi Mulyadi kerap menyampaikan bahwa lewat budayalah masyarakat Indonesia dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini sangat baik dan penting sekali dilakukan oleh Dedi Mulyadi untuk lebih dari sekedar mendeklarasikan budaya Sunda lebih layak untuk menjadi rujukan berkehidupan tanpa meninggalkan agama di belakangnya.

Bagi Ogburn kebudayaan materiil adalah sumber utama kemajuan, penggerak perubahan sosial. Sementara aspek kebudayaan non-materiil harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebudayaan materiil yang memerlukan waktu tersendiri, dan jurang pemisah antara keduanya akan menjadi masalah sosial.

Pasca Dedi Mulyadi
Ada banyak kemungkinan bila dadu telah dilempar dan Tuhan akan menentukan pada sudut mana dadu itu muncul. Saat Pilkada ada banyak kemungkinan bagi wajah Purwakarta selanjutnya. Apa yang dilakukan Dedi Mulyadi sangatlah benar, membangun infrastruktur budaya, menguatkan identitas budaya dan menjadikan toleransi sebagai pondasi sosial bermasyarakat. (bersambung)

*Penulis: Pimpinan Redaksi Purwakarta Post (Saefudin Sei)

Loading...
Click to comment

Berita Populer

To Top