Opini

Demokrat & PPP dua Partai Seksi di detik-detik Koalisi Pilgub Jabar

Hadi Saeful Rizal, S.Sos.I, M.Pd

Oleh: Hadi Saeful Rizal, S.Sos.I, M.Pd

Semakin dekatnya tahapan KPU jawa Barat untuk gelaran pilkada serentak utamanya Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 membuat sejumlah Partai melakukan sejumlah rangkaian Pola komunikasi koalisi semakin meruncing. Panasnya tensi dan baunya aroma dari Jakarta menentukan segala format dan kemungkinan koalisi terbentuk.

Catatan pertama yang mesti diingat, bahwa Pilgub Jabar ini menjadi salah satu magnet massa untuk Pilpres 2019. Sehingga Jakarta dengan penentu ditangan para pucuk pimpinan menyerahkan seluruh keputusan koalisi kemana arah partainya berkoalisi kini berada ditangan para ketua DPP Partai. Yang hal itu juga ujungnya diprediksi berada di bawah kordinasi atap pemerintah yang sedang berkuasa.

Catatan kedua, Kegagalan Partai Pemerintah menguasai zona-zona Provinsi di Pilkada serentak 2017 lalu tentu menjadi bahan evaluasi pada pilkada 2018 yang akan datang. Kalahnya Rano Karno di Banten dan tumbangnya Ahok di DKI Jakarta tentu tak ingin terulang di Jawa Barat.

Catatan ketiga, Hari ini sejumlah partai terbelah menjadi 2 kutub koalisi, mengaca di solidnya dukungan pusat Partai Pemerintah dan Non Pemerintah. Ada yang di KIH (Gerindra, PKS) dan KMP (PDIP, Golkar, PPP, PKB, PAN, Hanura, Nasdem). 2 kutub ini akan menjadi pemutus yang jelas arah koalisi.

Catatan keempat, Hanya ada 1 Partai yang menjadi pemain kunci yaitu Demokrat yang mempunyai modal signifikan di Legislatif, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Demokrat menempatkan dirinya sebagai partai penyeimbang. Yang masih diingat, gebrakan Demokrat di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu, dengan mengusung paket Agus-Sylfie. Tentu mengagetkan dunia politik Nasional. Ahok-Djarot sebagai Jawara Survei dan incombent harus gigit jari kalah diputaran kedua melawan Anis-Sandi, karena terbelah dukungan eks Agus-Sylfie solid untuk Ani-Sandi diputaran kedua. Tak terduganya gaya Demokrat ini hampir dipakai di Jawa Barat. Praktis hari ini kita belum mendengar Kemana Demokrat akan berlabuh. Modal 12 kursi dewan di Jabar tentu menjadi magnet bagi partai lain untuk ikut atau mengikutkan koalisi Demokrat.

Catatan Kelima, 2 kutub koalisi pasti terbentuk. Kubu KIH dan KMP. Pointnya yaitu calon pendukung Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019. Nah, jika ada koalisi non 2 kutub diatas, maka magnetnya hampir dipastikan adalah Partai Demokrat. Kekuatan figur SBY sebagai mantan Presiden RI, ahli strategi, yang juga ketum Demokrat tak disangsikan. Pengalamannya akan membuat para lawan politiknya sejenak angkat topi saat mengetahui gerakan akhir politiknya.

Catatan keenam, Modal PDIP yang memilik 20 kursi yang hari ini tidak begitu agresif di Pilgub Jabar, dan telah memberikan sinyal koalisi dengan Golkar (17 kursi) menjadi tanda keduanya mengukur diri bahwa suara Jabar ini sulit diprediksi. Hingga demi menjaga marwah partai PDIP -Golkar ini hampir dipastikan memahatkan dukungannya untuk Dedi Mulyadi yang jika dilihat dari segi ketokohannya sebagai ketua Partai, Dedi Mulyadi memiliki modal popularitas dan elektabilitasnya tertinggi menurut beberapa hasil survei. Bahkan pergerakan Dedi mensosialisasikan dirinya dinilai positif mengingat dari awal 2016 sampai Juli 2017 popularitas dan elektabilitas Dedi presentasinya semakin mengalami kenaikan cukup pesat karena kinerjanya yang tak kenal lelah. Hari ini kira-kira koalisi ini tengah menjajagi paket Cawagub yang akan disandingkan dengan Dedi yang diuji lewat hasil survei.

Catatan Ketujuh, Gerindra (11 kursi) dan PKS (12 kursi), dua partai ini sepertinya ingin melanjutkan suksesnya di Pilgub DKI 2017 lalu yang berhasil memenangkan Anis-Sandi yang akan dilantik oktober 2017. Disamping modal lainnya adalah PKS sebagai partai incombent yang hari ini tengah berkuasa lewat Ahmad dan Heryawan dan Dedi Mizwar. Tentu tak ingin kekuasaan ini berpindah. Terlebih PKS mempunyai partner koalisi yaitu Gerindra yang solid di Pusat demi pemenangan Prabowo di pilpres 2019 mendatang. Mereka hari ini memiliki sosok Dedi Mizwar yang mempunyai modal elektabilitas dan popularitas kedua, disamping genjotannya sebagai incombent yang akselerasinya masih bisa dimaksimalkan melalui program-program Pemprov yang sedang berjalan.

Catatan kedelapan, Ada gabungan partai-partai galau. Karena tak memenuhi syarat minimal 20% atau minimal 20 kursi. Nasdem (5 kursi) yang kepagian berhasil membujuk RK untuk mendeklarasikan dukungan ke Ridwan kamil (RK) sebagai Cagub Jawara Survei, pada akhirnya menjebak RK sendiri menjadi tidak leluasa bergerak, pertemuan-demi pertemuan RK dengan tokoh-tokoh Parpol lain seolah mengalami kebuntuan karena RK telah distempel milik Nasdem. Yang notabene itu menjadi tidak disukai oleh parpol lain, karena dukungan dan usungan tokoh non partai idealnya dilakukan atas kesepakatan bersama. PPP (9 kursi), PAN (4 kursi) PKB (3 kursi) Hanura (3 kursi) beberapa waktu lalu pernah konferensi pers untuk statemen koalisi dalam rangka menjaga marwah partai harus didirikan diatas kesepakatan bersama. Hingga akhirnya, daya tarik RK sebagai jawara beberapa kali Survei, tetap menjadi daya tarik bagi mereka dengan beradu lobi mengusulkan cawagub pendampingnya.

Namun dalam analisa penulis, sehebat apapun PAN, PKB, Hanura mereka pada akhirnya sepertinya sadar diri, modal jumlah kursi dewan Jabar mereka tak sebanyak Demokrat dan PPP. Sehingga pos Calon wakil gubernur memang sepertinya layak diserahkan ke Demokrat dan atau PPP yang memiliki jumlah kursi lebih signifikan. PPP punya sosok UU Ruzhanul dan Demokrat memiliki sosok Dede Yusuf. Kondisi ini dipastikan cukup membuat pusing RK dan partai Nasdem, PKB yang hari ini sdh memberikan sinyal dukungan ke RK. Tentu baik Demokrat dan PPP hanya mau gabung jika ada kadernya di paketkan, disamping jelas syarat 20 kursi mesti terpenuhi. Jalan terjal menghadang RK, hingga ia mencoba membelah lautan di Golkar agar ia juga diusung dari partai Beringin, dengan mencoba curi-curi kader Golkar lain seperti isu Daniel yang ingin dipaketkan jd cawagubnya.

Catatan kesembilan, Hal lain yang mesti diingat, gerak Demokrat yang mesti di waspadai. Seolah bergerak tanpa beban, tak menghiraukan hasil survei jawara atau tidak, seperti halnya di Pilgub DKI yang waktu itu jelas banyak tokoh. Namun semua terbenam dengan sendirinya setelah AHY tiba-tiba muncul menjadi figur yang diusung. Dan bukan perkara sulit bagi Demokrat untuk menggandeng partai lain. Ada sosok yang tidak diprediksikan laku dicoblos dibilik suara. Ada Aceng Fikri eks Bupati Garut yang juga anggota DPD jabar dengan suara terbanyak dari Hanura, Ada Desi Ratnasari dari PAN , Ada Dede Yusuf dari Demokrat, ada Uu Ruzhanul dari PPP dan masih banyak lagi tentu calon figur kejutannya. Gebrakan apalagi yang akan muncul diepisode Oktober, November dan Desember. Mari kita menjadi penikmat, pemilih cerdas. Semoga yang dipilih parpol adalah mereka yang sudah teruji dan memiliki jam terbang di hati Rakyat Jabar. Wallahu’allamu bi shawwab. (HSR)

Loading...
www.domainesia.com
Click to comment

Berita Populer

To Top