Opini

Sambut Ramadhan, Saatnya Bersih-bersih dari Residu Politik

Sambut Ramadhan, Saatnya Bersih-bersih dari Residu Politik. Politik belakangan ini tidak lagi menjadi sarana untuk lebih banyak berbagi kegembiraan, alih-alih gembira yang ada malah deg-degan. Wajar sebetulnya, saya setiap hari buka medsos itu timeline yang muncul isinya gak karuan. Ada yang saling menghujat, ada yang nyebar kabar hoaks sampe ada yang marah-marah, tapi ada juga yang merasa koar-koar terdolimi. Kebayangkan bagaimana jadinya kalau otak kita diisi tulisan atau gambar yang seperti itu secara terus menerus, menurut saya outputnya adalah “janin yang lahir prematur dari rahim yang selama 7 bulan mendapat asupan residu atau zat reaktif provokatif”.

Domakrasi itu bandulnya Pemilu, nah Pemilu itu ibarat rahim ibu, lalu siapa janinnya?, janinnya adalah kita, kamu, kami, pokonya seluruh penduduk negeri tercinta ini. Kalau ditanya bapaknya siapa?, jawab saja adalah mereka para founding father bangsa ini, dan pahlawan kemerdekaan. Tanpa mereka, rasa-rasanya kita tidak akan menikmati bagaimana demokrasi itu menggelinding, bagaimana aroma udara kemerdekaan itu menyegarkan, maka bersyukurlah bukan ber-ributlah.

Bisa kalian bayangkan masa Pemilu itu dimulai dengan tahapan yang panjang, masa kampanye hingga pencoblosan kurang lebih 7 bulan. Masa kampanye Pemilu 2019 dimulai dari 23 September 2018 sampai 13 April 2019. Nah selama masa kampanye bahkan jauh-jauh hari sejak 2017 lalu masyarakat kita itu sudah diframingkan, sudah diklasifikasikan jenisnya. Pengelompokan masa ini dimulai saat Pilkada DKI Jakarta, hingga terus digulirkan-gulirkan sampe puncaknya itu di Pemilu 2019 utamanya di Pilpres 2019.

Selama tahapan Pemilu 2019, kecenderungan sebagian masyarakat istilah saya “mengalami mutasi genetik menjadi lebih aktif dan agresif itu dimulai” ibaratnya kalau kalian nonton film jadul Spiderman vs Venom antara Peter Parker vs Eddie Brock itu kena bangate yaitu pas adegan baju spiderman kena cairan venom. Reaksinya lebih aktif dan agresif, dan menurut saya sama halnya dengan kecenderungan politik masyarakat saat memasuki tahapan Pemilu.

Bayangkan saja setiap hari selalu saja ada isu yang dilempar dan isu yang dicounter, kegiatannya rutin terus menerus. Mending kalau isu yang dilemparnya positif misalnya “Adu proker, adu gagasan atau adu prestasi” mending, ini isu yang dilempar malah menjurus ke SARA yang sensitif banget, tak heran bila saya secara pribadi malah”Deg-degan”. Karena menurut saya masa-masa seperti ini keadaan sangat “labil” dimana ada perasaan, keyakinan dan emosi bercampur aduk di dalam kepala. Itu menurut saya outpunya, “Awur-awuran” seseorang akan mudah mendapat dan menerima isu negatif karena tendesi keyakinan dan selanjutnya mudah diprovokasi, ujung-ujungnya anarki, bahaya kan?. Saat seperti ini, nalar rasional atau kerja otak kiri seseorang tidak dapat berjalan maksimal, jangan diminta urusan data untuk menganalisa mana yang benar dan mana yang salahpun sulit.

Bayangkan yang diprovokasi itu biasanya masyarakat yang ada di lapisan paling bawah yaitu Lembaga Kemasyarakat Desa (LKD) atau mudahnya di lingkup RT/RW. Mereka yang ada di kampung itu cenderung tertutup urusan politik sebetulnya, tapi karena ada desakan dari luar diri kecenderungan untuk aktif dan agresif muncul ke permukaan. Jika tidak secara langsung melalui kegiatan sosial biasaya, penyalurannya ada di media sosial.

Ibarat papan catur, media sosial menjadi medan tempur para pendukung paslon Pilpres 2019 untuk mengalahkan satu sama lain dengan cara yang sama kuatnya. Kenapa medsos jadi alat penyalur sekaligus medan tempur para pendukung?. Menurut saya medsos itu ibarat “Negara Kedua” setelah Indonesia, karena beberapa syarat untuk disebut negara itu ada di medsos, misalnya masyarakat (netizen), kekuasaan (desentralisasi hak pengguna medsos yang sama) sayangnya medsos tidak memiliki wilayah teritori secara fisik. Namun tetap Medsos penting untuk diurus, karena kalau kalian nonton film dokumenter “Edward Snowden” kata bijaknya gini “Terkadang Revolusi itu dimulai dari Youtube” nah Youtube itu termasuk medsos, intinya segala macem medsos mesti diurus untuk menjaga stabilitas opini. Yang mesti stabil itu tidak saja ekonomi agar tidak terjadi inflasi, opini medsos pun mesti stabil.

Di medsos alat gebugnya ialah pertama data pendukung bisa dari sumber peraturan, kemudian berita media masa lalu blog-blog zombie yang isinya haoks. Dan dari ketiganya yang paling mudah nyebar itu ialah Hoks. Ibarat kata, Hoaks itu disebutnya “The Mother of Evil”, karena makhluk yang pertama kali menggunakan Hoaks itu ialah Iblis yang ditujukan kepada Nabi Adam urusan “Buah Khuldi” via Ibu Hawa. Tidak salah bila Hoaks kalau disusun dalam bagan Kimia rumusnya itu agresif. Sedangkan dalam menyebarkan informasi Hoaks, inti sarinya itu ada di Judul.

Dalam dunia Digital Marketing, judul informasi yang disebar sangat menentukan tingkat klik netizen di medsos. Judul yang dapat memunculkan emosi, empati, hingga benci akan lebih mudah diklik netizen, ketimbang judul yang normatif. Kalian bisa lihat Kominfo RI sampai Rilis 10 Hoaks Paling Berpengaruh di 2018. Dampak dari hoaks sangat luar biasa, kalau dalam politik Hoaks itu ibarat “Gempa” sebelum tsunami, kalau tidak bisa diatasi dengan cepat dan tepat maka akan ada lebih banyak korban berjatuhan.

Kesimpulan, alasan-alasan tersebut menjadi pertimbangan kuat bagi saya pribadi untuk move one atau bersih-bersih dari residu politik sekana 7 bulan lamanya. Karena rasanya tidak enak kalau di bulan ramadhan para pendukung masih saja ada yang “Provokatif”. Mestinya pendukung paslon sabar dan jangan memprovokasi orang lain, kalau sekiranya ada kecurangan laporkan saja ke lembaga Bawaslu jangan diawur-awurin. Masing-masing harus menjaga ketentraman dan menunggu hasil penghitungan KPU. Hak kebebasan seseorang untuk berpendapat di medsos secara naluriah dibatasi oleh kebebasan netizen lain, jadi intinya jangan provokatif dan jangan bikin ribut, kecuali kalau akun medsosnya mau diblok berjamaah.

Jangan sampe buka medsos bukannya nambah pahala malah nambah dosa. Selama bulan Ramadhan usahakan jangan ada yang kaya gitu, pahala puasa kalian nyusut terus kaya baju jemuran kalau masih jadi netizen provokatif, sebulan puasa di hari raya tinggal ampasnya aja pahalanya habis.

Karenannya, dengan kerendahan hati saya secara pribadi memohon maaf apabila melakukan kesalahan yang Terstruktur, Sistematis dan Massif, mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Marhaban ya Ramadhan.

 

Penulis : Chief Executive Officer (CEO) Purwakarta Post Media, Kang Sei

Loading...
Click to comment

Berita Populer

To Top