Hiburan

Laku Teatrikal Devon dan Uji Kerumunan

“Ketika orang-orang bergerombol dalam sebuah kerumunan,” kata H.,”mereka akan kehilangan nalar atas benar dan salah.”

Begitulah John Galsworthy memulai cerita pendeknya yang berjudul Kumpulan. Cerpen ini bercerita tentang bagaimana sekumpulan laki-laki yang tiba-tiba saja mendadak seperti bukan dirinya sendiri ketika berada dalam kerumunan. Melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukan ketika sendiri. Seseorang yang sendirian, tutur cerpen itu lagi, sebenarnya lebih dekat pada kebaikan daripada keburukan.

Cerpen ini sedikit banyak mengingatkan saya pada beberapa hal yang sedang berlangsung belakangan. Utamanya tentang gagasan-gagasan “mengingatkan masyarakat muda pada sejarah” yang diamalkan pada nonton bareng film “Pengkhianatan” yang durasinya hampir empat jam itu.

Di Purwakarta, beberapa pesantren, sekolah-sekolah, lapangan-lapangan, dan kampus mengadakan acara nobar ini di bawah ‘bimbingan’ bapak-bapak dari Kodim.

Di negara yang entah punya itikad baik atau tidak untuk mengusut tuntas kasus-kasus kemanusiaannya ini, syukurnya saya masih punya hak untuk tidak ikut menonton. Cukup sudah sekali saja ketika masih sekolah dasar. Maka malam minggu itu saya cuma perlu berbelok menghindari sebuah kerumunan penonton film itu ke acara gelar kesenian di salah satu kampus yang sedang berulangtahun.

Sampai di sana, selain memperhatikan cewek-cewek yang hilir mudik saya hanya memperhatikan satu pertunjukan yakni Performance Art yang dimainkan oleh anak-anak dari Sketsa Sore.

Pertunjukannya kali itu terasa sangat kuat dan mengganggu. Meski kali itu bukan pertama kalinya melihat performance art dari anak-anak Sketsa Sore tersebut. Intinya performance art dari Sketsa Sore malam itu di STIE Khez Muttaqien mendorong saya untuk menuliskan ini.

Salah satu pemainnya sering dipanggil Devon adalah yang terasa paling mengganggu. Saya kerap terpukau dengan hampir semua hal yang dilakukannya secara spontan. Ia memang tidak sendirian melakukannya, kadang ada Bayu, Afi, atau Bucek yang menemani. Namun Devon adalah yang saya perhatikan lebih konsisten dari yang lain, dan lebih menarik perhatian saya pribadi. Tentu yang lain juga bagus. Tapi tolong biarkan saya membahas Devon saja demi menghemat setiap paragraf. Hehe.

Kadang ia berjalan ke tengah lapangan dengan sisa celana pendek saja lalu mengambil seember air dan mandi begitu saja. Sampai bawa sampo segala. Di lain kesempatan ia membuat gerakan bersetubuh dengan pohon. Di kesempatan lainnya lagi ia memanjat tiang panggung dan mengedarkan pandangannya ke semua penonton sembari menyemburkan asap rokok dari mulutnya. Semua dia lakukan dengan ekspresi wajah yang kekanak-kanakan. Polos, seolah ia Devon yang kami lihat di keseharian. Namun karena situasinya seperti ini, ia lebih mirip orang yang punya masalah jiwa.

Sulit sekali untuk tidak tertawa melihat semua tingkahnya. Tapi ia melakukan itu semua sebab ingin menyampaikan sesuatu. Tapi entah apa. Sulit sekali menemukan makna dibalik hal-hal yang ia dan kawan-kawannya lakukan. Memang ia melakukan itu semua dengan iringan musik atau pembacaan puisi. Tapi aku melihat puisi-puisi atau musiknya terlalu sempit dibanding apa yang ia sampaikan dalam gerak-geriknya.

Semua spontan memang, tapi setelah agak sering melihatnya juga melihat kehidupanya yang sehari-hari, khususnya pada gaya menggambarnya, saya melihat ada pola umum: keinginan untuk mencemooh yang sangat serius.
Dalam tafsiran saya semua laku teatrikal dalam setiap performance art-nya seperti melakukan pemberontakan khas “anak-anak nakal” terhadap “orang tua”. Tidak berbahaya, namun tetap perlu.
Anak-anak nakal merupakan simbol generasi muda yang merasa bosan dan marah terhadap semua hal yang sangat “orang tua” hal-hal yang dinilai mapan dan keharusan; seperti pandangan-pandangan moral, visi-visi hidup yang serius, dan bagaimana orang-orang yang dsebutnya “tua” tersbut selalu kelihatan ingin dipandang penting, dan semua yang keluar dari mulutnya selalu berasal dari situasi yang genting.

Semua hal itu bagi jiwa kanak-kanak dalam lelaku teatrikalnya malah terasa banal, menyebalkan, dan layak disembur ludah. Kadang dalam laku teatrikalnya ia berbaur dengan penonton, sambil mengisap rokok, tiduran sambil memandang begitu saja si pengiring musik dan pembaca puisi. Sekali dua kali ia akan mengikat kaki dan tangan penyanyi, atau menutupi wajah yang sedang bermain gitar dengan plastik, sesekali juga ia akan membakar koran atau apa saja. Semua yang dilakukannya seringkali bukanlah pertunjukan utama, sebab pembaca puisilah yang sering duduk di tengah sorot lampu panggung. Ia hanya berputar-putar seperti memecah konsentrasi para penonton. Sepintas lelaku teatrikalnya tampak ingin mengganggu tapi juga sangat ingin dianggap bagai angin lalu. Suara pinggiran.

Sebulan lampau saya mengikuti temu penulis-pembaca mojok.co di Jogjakarta, dalam satu sesi tanya-jawab seorang penulis Kalis Mardiasih ditanyai kenapa ia kerap terasa berusaha melawan arus-arus pandangan umum.
Sekali waktu Kalis meledek anak-anak mahasiswa pergerakan, lain waktu mencemooh akhi-akhi (tapi dalam catatan ia melakukannya dengan argumentasi yang bagus luar biasa). Kalis Mardiasih menjawabnya dengan dahi berkerut. Ia mungkin mulai memandang jawaban ini perlu setelah sebelumnya ia menjawab semua pertanyaan dengan setengah berguyon.
Dengan ingatan saya yang menyedihkan saya hanya bisa merangkum jawabannya seperti ini. Suara-suara dari orang-orang yang berkerumun itu perlu diuji. Apa yang saya sering lakukan adalah “testing the crowd” menguji kerumunan. Setelah itulah yang penting dan mendebarkan. Sebab kita melihat bagaimana reaksi kerumunan tersebut. Dari situlah kita bisa melihat apakah kerumunan itu sebenarnya berjuang untuk semua orang, atau hanya berjuang bagi kalangan sendiri, tapi berpura-pura membela semua orang.

Apa yang Devon lakukan mungkin memang berbeda dari yang Kalis lakukan. Tapi secara substansi sama. Menguji kerumunan yang mengira semua hal di sekitarnya adalah seharusnya, sewajarnya, sebaiknya. Sehingga semua hal yang berada di luar kerumunan itu menajdi liyan yang tidak bisa diterima, musti diseragamkan, musti diayomi, atau jika harus digebuk-rataI

Pada akhirnya seperti yang kutafsirkan dari pernyatan Kalis Mardiasih, orang-orang yang berada dalam kerumunan akan selalu merasa aman dan baik-baik saja. Dan di sinilah bahayanya: mereka akan menjadi mangsa giringan yang paling empuk. “Uji-kerumunan” pada dasarnya memang untuk “mengganggu” agar semua orang berani menguji sendiri, mempertanyakan lagi, alasan-alasan apa yang sungguh-sungguh membuat mereka berkerumun. Semata-mata mengingatkan pentingnya berpikir dengan akal sehat. Hal yang nampaknnya belum menjadi trend di kita belakangan ini.

Saya sedang tidak bermaksud mengolok-ngolok siapapun. Sebab semua yang Devon tawarkan dalam laku teatrikalnya menjadi pertanyaan khusus bagi diri sendiri; seperti, apakah hal-hal yang sejauh ini kami lakukan (jika itu ada artinya), untuk merespon situasi sosial di lingkungan sekitar telah menjadikan lingkungan tersebut lebih baik? Saya sendiri tidak ma(mp)u berhenti mempertanyakannya.

Di akhir, John Galsworthy mengakhiri cerpen tersebut dengan ungkapan si tokoh H. “Kumpulan? Ah! Iblis macam apa yang merasuki kita ketika sedang berkumpul?”

Oleh: Ahmad Farid
Bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta, KOPEL, dan @pustakaki.

Loading...
Click to comment

Berita Populer

To Top